Analisis Feminisme dalam Cerpen

 Analisis Feminisme Dalam Cerpen “Yang Gila” Karya Nazar Shah Alam

Oleh: Ichsan Mantovani

Nim: 1106102010010

 1.      Pengertian

            Feminis berasal dari kata ”Femme” (woman), berarti perempuan (tunggal)yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial (Ratna, 2004: 184). Tujuan feminis menurut Ratna (2004:184) adalah keseimbangan interelasi gender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya. Pada dasarnya gerakan feminisme ini muncul karena adanya dorongan ingin menyetarakan hak antara pria dan perempuan yang selama ini seolah-olah perempuan tidak dihargai dalam pengambilan kesempatan dan keputusan dalam hidup. Perempuan merasa terkekang karena superioritas laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai ”bumbu penyedap” dalam hidup laki-laki. Adanya pemikiran tersebut tampaknya sudah membudaya sehingga perempuan harus berjuang keras untuk menunjukkan eksistensi dirinya di mata dunia

2.      Sinopsis cerpen “Yang Gila” Karya Nazar Shah Alam

Emak adalah orang yang sangat sabar, murah hati, dan juga taat ibadah. Ia tak pernah peduli apa kata warga tentang dia. Ia juga tak membalas setiap hinaan yang di lontarkan kepadanya. Semua warga menganggap Emak gila, tetapi Cuma Istri Fauzan yang tidak menganggap Emak gila dan sering membantu Emak dan si Aku.

Si Aku juga pernah memukul Ainon karena ia telah menghina si Aku. Kemudian emak Ainon datang menghampiri si Aku dengan membawa akar rotan. Si aku kemudian di pukul dengan akar rotan itu, hingga si Aku jatuh pingsan.

Kata warga Emak gila setelah tidak lagi mencari kayu bakar. Suatu hari di pasar, si Aku mendengar dari mulut warga bahwa Emak sedang kumat gila. Si Aku menyusuri ke rumah untuk melihat Emak, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Emak sedang gila. Lalu terdengar riuh dari kejauhan warga sedang menuju ke rumah Emak.

Ratu kedengkian itu berlari menuju ke tengah perkampungan dengan mengabarkan ke warga bahwa Emak gila, hingga warga menyerbu rumah Emak. Mereka terus berteriak, tetapi suara mereka perlahan menghilang saat emang hendak melaksanakan Salat Fardhu.

Usai emang salat, suara mereka mulai pecah lagi. Mereka terus berteriak sambil memegang batu dan benda-benda berat lainnya. Tetapi mereka hanya berteriak saja tanpa melakukan apa-apa. Sebenarnya siapa yang gila? Emak, Warga atau si Aku?

3.      Pembahasan

Dalam cerpen ini kita akan menganalisis feminisme untuk tokoh Emak. Sebab Emak adalah tokoh utama perempuan dalam cerpen ini. Tokoh Emak juga menggambarkan tentang bagaimana hak-hak wanita. Penasaran? Kita lihat saja dalam analisis feminisme berikut ini:

3.1 Analisis Feminisme tokoh “Emak” dalam cerpen Yang Gila karya Nazar Shah Alam.

  1. Perempuan adalah seorang berhati baik

Kebaikan hati seorang wanita tampak pada perilaku ia sehari-hari, baik dia sedang berbicara, memasak, memandikan anak, dan bahkan ketika ia sedang beribadah. Seperti yang terdapat dalam kutipan cerpen berikut ini:

Emak masih sembahyang tepat waktu. Masih membaca yasin setiap malam Jumat. Masih suka  membantu orang-orang yang meminta bantuannya……

  1. Perempuan mempunyai sifat yang tulus dan penuh kasih sayang

Tiada kasih yang tulus selain kasih ibu, kita di lahirkan melalui rahim ibu. Ibu yang telah mengandung kita selama 9 bulan. Menahan segala derita hanya untuk kita. Ia tidak mau anaknya sakit, ia merawatnya dengan penuh kasih sayang. Apabila kita sedang bersedih ia selalu punya sejuta cara untuk mengobati rasa sedih kita. Lihat saja kutipan cerpen berikut ini:

Emaklah yang dulu menuntunku pergi meninggalkan tanah kuburan Umi dan Abah; mengusap air mataku yang terus mengalir dengan ujung selendangnya; dia menggendong tubuhku yang ringkih ketika aku lelah berjalan di bawah terik surya menuju rumahnya…..

  1. Perempuan ingin yang terbaik untuk yang dicintainya

Perempuan selalu cepat memaafkan. Apa-apa saja yang terjadi ia selalu mengandalkan perasaan. Begitu pula kepada orang yang dicintainya, ia hanya ingin yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Ditunjukkan oleh penggalan cerpen berikut ini:

Emak melarangku berkelahi. Walaupun aku katakan pada Emak bahwa merekalah          yang bersalah, Emak tetap melarangku berkelahi…..”

  1. Perempuan itu pandai menahan emosi

Kita sering melihat wanita murah senyum, tetapi kita tidak mengetahui bahwa senyuman itu adalah senyuman untuk menutupi kesedihan. Ketika ia merasa sedih, cukup ia saja yang merasakan, ia tidak mau orang lain juga ikut bersedih. Begitulah wanita. Seperti yang terdapat dalam kutipan cerpen berikut ini:

Sepanjang malam itu airmata di pipinya tidak berhenti mengalir. Emak     menyembunyikan kepiluannya tanpa suara. Sejak kejadian itu Emak melarangku     mencari perkara dengan anak-anak bejat itu…..”

  1. Perempuan itu orang yang tegar

Sekuat apapun cobaan yang di rangkul oleh wanita, ia tetap akan bertahan pada pendiriannya. Ia tak mau menyerah begitu saja. Ia tetap menahan segala emosi katika energi negatif menghampirinya. Dan andalan wanita adalah senyuman. Kita lihat saja penggalan cerpen berikut ini:

Ratu Kedengkian itu berlari ke arah tengah perkampungan yang ramai mengabarkan Emakku gila. Emak terlihat tersenyum mengejek…..”

 

 

Lampiran Cerpen:

Yang Gila

Karya: Nazar Shah Alam

(Sumber: Atjeh Times, 18 November 2012)

 

Kata mereka Emakku gila. Aneh kurasa. Menurutku kelakuan Emak biasa-biasa saja. Ia masih mandi, mencuci piring, mencuci baju, memasak, melakukan segala hal yang sama seperti yang dilakukan oleh para penggunjing itu. Lebih baik dari mereka, Emak masih sembahyang tepat waktu. Masih membaca yasin setiap malam Jumat. Masih suka  membantu orang-orang yang meminta bantuannya–seluruh hal baik-baik yang hampir tidak pernah dilakukan oleh para penggunjing itu. Lantas di mana bedanya? Apa yang mereka nilai dari Emak sehingga dengan mudah mereka berkata bahwa perempuan baik-baik ini telah gila? Apa gara-gara dia tidak lagi mencari kayu bakar di hutan?

Seperti apa yang aku perhatikan pada orang gila, Emak tidak menyerupai mereka sedikit pun. Bahkan mendekati kegilaan pun rasa-rasanya tidak. Emak masih seperti dulu, seperti saat aku pertama kali dibawanya menjauh dari kampungku. Saat itu, tanpa sebab warga kampung asalku membakar rumahku. Abah dan Umi meninggal dalam kejadian itu. Kata mereka Abahku imam yang sesat. Aku tidak tahu mengapa orang kampung menyebut keluargaku sesat.

Aku masih ingat, Emaklah yang dulu menuntunku pergi meninggalkan tanah kuburan Umi dan Abah; mengusap air mataku yang terus mengalir dengan ujung selendangnya; dia menggendong tubuhku yang ringkih ketika aku lelah berjalan di bawah terik surya menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan itu dia menunjukkan banyak hal kepadaku; menceritakan kisah-kisah jenaka sehingga dalam sedih aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terbahak. Hingga kini, di mataku ia masih seperti pada hari pertama pertemuan itu. Dia sama sekali tak berubah.

Kata mereka—perempuan-perempuan penggunjing itu—Emakku gila. Gila sebenar-benarnya. Aku tidak percaya apa kata mereka. Perempuan-perempuan itu memang dengki pada Emakku. Memang sejak suami Emak meninggal, Emak mengalami pengucilan oleh perempuan-perempuan kampung kami.

Hanya istri Haji Fauzan yang berpikir Emakku tidak gila dan selalu membantu kami. Mereka keluarga terpandang di kampung ini dan selalu saja memberikan apa pun yang mereka rasa kami perlukan. Ia memberikan aku jajan setiap pagi atau makan siang yang enak. Emak membolehkan aku bemain bersama Sofia, anak Haji Fauzan yang bungsu dan satu kelas denganku. Wajah Sofia secantik perangainya. Dia tak pernah memaki, memarahi, atau menghinaku seperti kawan-kawan yang lain.

Aku sangat kesal jika harus mengingat tingkah anak-anak bejat itu. Jika mereka kalah bermain gasing, maka mereka akan menghinaku habis-habisan, memancing-mancing kata, mengusirku secara tidak langsung dari arena permainan. Apabila aku menyanggah hinaan mereka, ada saja di antara mereka yang menantangku berkelahi. Emak melarangku berkelahi. Walaupun aku katakan pada Emak bahwa merekalah yang bersalah, Emak tetap melarangku berkelahi.

Dulu pernah aku menghajar Ainon. Ia mengejekku hingga semua kawan-kawanku di lapangan tertawa terpingkal-pingkal. Habis kesabaranku saat itu. Ia memang tak punya hati. Dikatakan pada segenap orang di lapangan bermain bahwa aku lahir di rumpun pisang. Kutampar dan kujambak rambutnya. Rupanya dia mimisan sehingga keluar darah dari hidungnya. Aku tidak takut, karena dia yang memulai.

Di luar sangkaan, emak Ainon datang ke tanah lapang membawa rotan seukuran jempol orang dewasa. Emak Ainon memukulku berkali-kali. Lebam dan membiru sekujur kakiku. Hampir muncrat darah di betisku. Aku hanya memandang Tek Adih, Emak Ainon, dengan tatapan kosong. Aku tidak mengiba. Tidak juga berteriak minta tolong agar dilepaskan. Apa yang terjadi kemudian, setelah beberapa kali dengan tanpa ampun Tek Adih memecut betisku, semuanya menjadi hitam. Sesaat terdengar sayup suara laki-laki dari arah lapangan bola kaki. Aku rasakan rambutku lepas dari cekalan tangan kasar Tek Adih, tubuhku melayang-layang, perutku terasa tertekan, lalu semua benar-benar  hitam dan tidak ada lagi suara.

Malamnya, ketika aku terjaga, Emak telah berada di sampingku. Ia tersenyum dan berbisik perlahan, “Sabarlah, Inong.”

Aku hanya mengangguk lemah, sembari mencoba menggapai wajahnya yang basah airmata. Sepanjang malam itu airmata di pipinya tidak berhenti mengalir. Emak menyembunyikan kepiluannya tanpa suara. Sejak kejadian itu Emak melarangku mencari perkara dengan anak-anak bejat itu.

Kata mereka—perempuan-perempuan kampung kami yang dengki itu—Emakku gila. Tek Adih yang paling suka mengatai-ngatai Emakku gila. Apa sudah buta mata mereka? Padahal Emak masih seperti biasa. Ia masih menjahitkanku baju batik sebagai hadiah kenaikanku di kelas empat. Kain baju itu diberikan oleh istri Haji Fauzan. Selain itu,  Emak masih membersihkan rumah, tak banyak merepet, masih selalu menemaniku keluar malam ke sungai untuk buang hajat. Emak masih sering mendongeng untukku. Lalu, di mana letak kegilaannya?

Tentang Emak yang tak lagi mencari kayu bakar apakah karena itu dia dianggap gila? Aku pikir itu sama sekali tidak beralasan. Pada suatu hari Emak menghentikan mencari kayu di hutan karena punggung dan kakinya mulai sering terasa sakit. Dan tak lama setelah itu dia mulai merintih ketika malam tiba. Dia memang menahan erangannya agar aku tak mendengarnya tapi aku mendengarnya. Kadang-kadang aku mendengarnya berbicara kepada kakiknya yang sakit itu seperti sedang berpetuah pada anak-anak. Pada kakinya yang sakit dia bertanya mengapa si kaki membebaninya dengan penderitaan. Berbicara dengan kaki bukan pertanda dia gila, bukan?   Aku yakin, hampir semua orang pernah berbicara dengan bagian tubuh mereka yang sedang sakit. Tubuh sendiri yang sedang sakit pun harus diajak bekerjasama sekurang-kurangnya agar rasa sakit itu dapat segera hengkang.

Beberapa hari setelah Emak tak lagi mencari kayu bakar, aku mendengar para perempuan yang dengki itu berbisik menyebut nama Emak di warung sayur tepi jalan. Kata mereka, Emak sedang kumat gila. Aku berlari segera menuju rumah. Terhuyung-huyung tubuh kurusku menggapai tuju. Di rumah kucari Emakku. Aku jumpai ia sedang mandi. Tampaknya dia biasa saja.

Aku senang mendapati Emak dalam keadaan seperti semula. Aku lepaskan pakaian sekolahku. Pelan sekali aku melangkah hendak menuju rumah Sofia. Aku ingin bermain dengannya. Dari sumur, terdengar Emak sedang bersenandung. Ah, bukankah itu sudah biasa? Tidak. Rupanya ini senandung yang lain sama sekali. Aku pernah mendengar senandung ini. Ini merupakan senandung kegelisahan yang bertahun-tahun lalu aku dengar sejak aku dibawa ke rumahnya. Perbedaannya, kini suara emak  telah disaring usia. Nadanya timbul tenggelam dibawa angin. Kuintip dari sela papan dinding rumah kami. Emak masih sedang mandi. Tak ada yang berlebihan. Mandi dan bersenandung seperti biasanya. Orang-orang kaya pun, aku pikir sering melakukannya. Aku melihatnya beberapa kali di sinetron di rumah Sofia.

Lalu terdengar riuh suara dari rimbun semak belakang sumur kami. Tek Adih yang kejam itu menyeruak muncul dengan gelegar seperti guntur. “Syaripah gilaaa.. Syaripah gilaaa…!”

Ratu Kedengkian itu berlari ke arah tengah perkampungan yang ramai mengabarkan Emakku gila. Emak terlihat tersenyum mengejek. Tak lama kemudian terdengar banyak orang memekik di jalanan. Suara mereka bulat menyebut nama Emak seperti segerombolan orang sedang berkampanye. Aku gelagapan. Dari sela dinding papan rumah aku intip apa yang sedang Emak lakukan. Emak sedang mandi dengan sentosa dan masih bersenandung dengan nyaman.

Suara-suara jorok itu akhirnya menghilang juga. Suara gedebum timba yang dicelupkan Emak ke sumur membuatku terkejut. Kulihat Emak mengusap badannya. Kemudian ia keluar dengan pakaian yang lengkap. Handuk dililit di atas kepala. Ia menatapku yang sedang menatapnya ketika kami saling memandang di dekat pintu dapur. Ia tersenyum lembut, lalu beranjak meraih sajadah dan mukena. Emak salat. Aku menatapnya lekat-lekat. Tak ada yang berubah. Tapi mengapa mereka, perempuan-perempuan sialan itu berkata Emakku gila?

Suara sahut-menyahut kembali pecah di luar. Salat Emak sudah usai. Lepas melipat perlengkapan salatnya, Emak menyuruhku mengambil bungkusan kain kecil yang terduduk rapi di tengah kamar depan lantas ia menuntunku melewati mulut pintu. Perempuan-perempuan kampungku ramai di depan rumah kami yang lesu. Tangan-tangan mereka membawa batu dan kayu. Aku memeluk pinggang Emak. Mereka terus berteriak. Mereka mungkin akan melempar rumahku atau merajam emakku. Tapi tangan mereka tak bergerak. Mereka terpacak di tempat dan cuma berteriak-teriak. Sebenarnya siapa yang gila? Emakku, mereka yang sirik itu, atau jangan-jangan, aku yang gila.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s